Translate

Rabu, 11 Juni 2014

TEKNIK WAWANCARA

hey blogger, jumpa kembali nih . silahkan di simak :)
    Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan dalam media massa. Dalam konteks ini, wawancara merupakan proses pencarian data berupa pendapat/pandangan/pengamatan seseorang yang akan digunakan sebagai salah satu bahan penulisan karya jurnalistik.   
   Dari wawancara, sebuah berita didapat dan dilaporkan kepada masyarakat. Untuk itu, wawancara sedikit banyak mempengaruhi sebuah kualitas berita. Sebab wawancara dibutuhkan untuk mendapatkan keterangan, fakta, data-data, penegasan serta beragam jenis informasi lainnya. Kegunaan wawancara bisa untuk memastikan sebuah kebenaran, mengklarifikasi, me-recheck, atau meluruskan kembali berbagai informasi yang didapat. 
SIFAT WAWANCARA
1. On the record
 Nama dan jabatan pemberi wawancara dapat digunakan sebagai sumber dan keterangannya boleh di kutip langsung.
2. Background
  Boleh menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apa pun yang diberikan, tetapi tanpa menyebutkan nama atau jabatan pemberi wawancara sebagai sumbernya. Biasanya digunakan istilah “Sumber Terpercaya di department menurut persyaratan yang ditentukan oleh pemberi wawancara.

     3. Deep Background

   Tidak boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebut nama jabatan atau instansi sumber berita. Yang digunakan adalah istilah Menurut Keterangan atau : diperoleh kabar bahwa ..........

    4. Off the record
    Keterangan yang diberikan bukan untuk disiarkan. Wawancara semacam ini berguna bagi wartawan untuk memahami permasalahan. 

  Persiapan Wawancara

 Secara sederhana terdapat sedikitnya dua tahap untuk melakukan persiapan wawancara:
1. Tahapan Biografis
Tahapan untuk mengumpulkan tentang nama, tempat tinggal, data-data umum lain terhadap narasumber.
2. Tahapan non Biografis.
Mengumpulkan keterangan seputar subyek, seperti yang terkait dengan kehidupan tokoh selain biografis

    Model Wawancara
1. Wawancara langsung (Tatap Muka). Biasanya dilakukan media elektronik, khususnya televisi.
2. Wawancara tidak langsung (Telpon dan Tertulis). Bisa dilakukan media elektronik maupun cetak.

Hal yang perlu diperhatikan dalam wawancara
Agar tugas wawancara kita dapat berhasil, maka hendaknya diperhatikan hal-hal  antara lain sebagai berikut :
1.   Persiapan.
  Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi wawancara, pengenalan mengenai sifat/karakter/kebiasaan orang yang hendak kita wawancarai, dan sebagainya.
2.   Taatilah peraturan dan kode etik
     Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma/etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.
3.   Jangan mendebat nara sumber
  Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, biarkan saja. Jangan didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias jangan terkesan membantah.
     Contoh yang baik: “Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi pertumbuhan perekonomian itu sendiri, Pak?”
   Contoh yang lebih baik lagi: “Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu kan berbahaya bagi pertumbuhan perekonomian itu sendiri. Bagaimana pendapat Bapak?”
  Contoh yang tidak baik: “Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan perekonomian itu sendiri, Pak?”
4.   Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum
   Biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu untuk memfokuskan jawaban nara sumber. Seperti menayakan umur, kesibukan sehari-hari dll (karena mestinya sudah diketahui lebih awal)
5.  To the point
    Selain untuk menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna ucapan si pewawancara.
6.   Hindari pertanyaan ulang.
  Hal ini dapat merugikan kita sendiri, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir yang didengarnya.
7.    Ikuti karakter nara sumber.
  Untuk nara sumber yang pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan pemancing yang membuat si nara sumber “buka mulut”. Sedangkan untuk nara sumber yang doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan pembicaraan agar nara sumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan materi wawancara.
8.   Jalin hubungan personal dengan nara sumber.
    Dengan cara memanfaatkan waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua belah pihak dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal lain yang berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara itu sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu yang akan datang.
9.   Memihak Narasumber
   Jika kita mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu, bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian. Seperti kata pepatah, “Jangan bicara tentang kucing di depan seorang pecinta anjing”. 


    mungkin cukup sampai disini, YUK TERUS MENCARI TAHU :)

SUMBER:
http://www.slideshare.net/dewirokhmah/teknik-wawancara-14674871
http://www.slideshare.net/atone_lotus/metode-wawancara-2-psikologi-umum
http://www.slideshare.net/bahanamahasiswa/wawancara-12638410
http://www.slideshare.net/elkhea/teknik-wawancara
http://www.slideshare.net/_title=tehnik-wawancara&user_login=RudyRustam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar