hey blogger, jumpa kembali nih . silahkan di simak :)
Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang
untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah.
Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan
penulisan berita yang disiarkan dalam media massa. Dalam konteks ini, wawancara
merupakan proses pencarian data berupa pendapat/pandangan/pengamatan seseorang
yang akan digunakan sebagai salah satu bahan penulisan karya jurnalistik.
Dari wawancara, sebuah berita didapat dan
dilaporkan kepada masyarakat. Untuk itu, wawancara sedikit banyak mempengaruhi
sebuah kualitas berita. Sebab wawancara dibutuhkan untuk mendapatkan
keterangan, fakta, data-data, penegasan serta beragam jenis informasi lainnya.
Kegunaan wawancara bisa untuk memastikan sebuah kebenaran, mengklarifikasi,
me-recheck, atau meluruskan kembali berbagai informasi yang didapat.
SIFAT WAWANCARA
1. On the record
Nama dan jabatan pemberi wawancara dapat digunakan sebagai sumber dan keterangannya boleh di kutip langsung.
2. Background
Boleh
menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apa pun yang diberikan,
tetapi tanpa menyebutkan nama atau jabatan pemberi wawancara sebagai sumbernya.
Biasanya digunakan istilah “Sumber Terpercaya di department menurut persyaratan yang ditentukan oleh pemberi
wawancara.
3. Deep Background
Tidak
boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebut nama jabatan atau instansi
sumber berita. Yang digunakan adalah istilah Menurut Keterangan atau : diperoleh kabar bahwa ..........
4. Off the record
Keterangan yang diberikan bukan untuk
disiarkan. Wawancara semacam ini berguna bagi wartawan untuk memahami
permasalahan.
Persiapan
Wawancara
Secara
sederhana terdapat sedikitnya dua tahap untuk melakukan persiapan wawancara:
1. Tahapan
Biografis
Tahapan untuk
mengumpulkan tentang nama, tempat tinggal, data-data umum lain terhadap
narasumber.
2. Tahapan non
Biografis.
Mengumpulkan keterangan
seputar subyek, seperti yang terkait dengan kehidupan tokoh selain biografis
Model
Wawancara
1. Wawancara langsung
(Tatap Muka). Biasanya dilakukan media elektronik, khususnya televisi.
2. Wawancara tidak langsung
(Telpon dan Tertulis). Bisa dilakukan media elektronik maupun cetak.
Hal yang perlu
diperhatikan dalam wawancara
Agar tugas wawancara
kita dapat berhasil, maka hendaknya diperhatikan hal-hal antara lain
sebagai berikut :
1. Persiapan.
Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi
wawancara, pengenalan mengenai sifat/karakter/kebiasaan orang yang hendak kita
wawancarai, dan sebagainya.
2. Taatilah peraturan dan kode etik
Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap
norma/etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita
dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.
3. Jangan mendebat nara sumber
Tugas seorang
pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan
berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, biarkan saja. Jangan
didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias jangan
terkesan membantah.
Contoh yang baik:
“Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi pertumbuhan perekonomian itu sendiri, Pak?”
Contoh yang lebih baik
lagi: “Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu kan berbahaya bagi pertumbuhan perekonomian itu sendiri. Bagaimana pendapat Bapak?”
Contoh yang tidak baik: “Tetapi
hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan perekonomian itu sendiri, Pak?”
4. Hindarilah menanyakan sesuatu yang
bersifat umum
Biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu
untuk memfokuskan jawaban nara sumber. Seperti menayakan umur, kesibukan
sehari-hari dll (karena mestinya sudah diketahui lebih awal)
5. To the point
Selain untuk menghemat
waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna
ucapan si pewawancara.
6. Hindari pertanyaan ulang.
Hal ini dapat merugikan
kita sendiri, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya
pertanyaan terakhir yang didengarnya.
7. Ikuti karakter nara sumber.
Untuk nara sumber yang
pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan pemancing
yang membuat si nara sumber “buka mulut”. Sedangkan untuk nara sumber yang
doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan pembicaraan agar nara
sumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan materi wawancara.
8. Jalin hubungan personal dengan nara
sumber.
Dengan cara memanfaatkan
waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua belah pihak
dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal lain yang
berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara itu
sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu yang
akan datang.
9. Memihak Narasumber
Jika kita
mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu,
bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian.
Seperti kata pepatah, “Jangan bicara tentang kucing di depan seorang pecinta
anjing”.
mungkin cukup sampai disini, YUK TERUS MENCARI TAHU :)
SUMBER:
http://www.slideshare.net/dewirokhmah/teknik-wawancara-14674871
http://www.slideshare.net/atone_lotus/metode-wawancara-2-psikologi-umum
http://www.slideshare.net/bahanamahasiswa/wawancara-12638410
http://www.slideshare.net/elkhea/teknik-wawancara
http://www.slideshare.net/_title=tehnik-wawancara&user_login=RudyRustam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar