Hey Blogger, jumpa kembali nih setelah sekian lama di jumpai dengan kejenuhan hehe :)
kali ini pembahan tentang tokoh Chairul Tanjung atau yang biasa di kenal dengan sebutan si anak singkong !
YUK DI SIMAK :)
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Jika membahas masalah kepribadian itu menjadi suatu
hal yang unik, karena kepribadian berbeda beda antar individu satu dengan yang
lainnya. Jika kepribadian di kaitkan dengan tokoh, saya disini memilih tokoh
Chairul Tanjung. Alasan saya memilih Chairul Tanjung, karena yang saya pahami
kehidupan beliau penuh dengan semangat dan terus ber juang, melalui sikap
tersebut dapat memberikan motivasi kepada orang lain dan juga kepada saya agar
kita selalu menjadi orang yang terus berusaha. Meraih kesuksesan di awali
dengan kesusahan yang berakhir dengan keindahan.
Chairul
Tanjung atau yang biasa di sebut si anak singkong ini lahir di Jakarta, 16 Juni 1962 dalam
keluarga yang sederhana. Ayahnya A.G. Tanjung adalah wartawan zaman orde lama
di sebuah surat kabar kecil. Chairul berada
dalam keluarga bersama enam saudara lainya. Chairul Tanjung kecil melalui
hari-hari penuh keceriaan sebagai anak pinggiran kota Metropolitan. Bermain
bersama teman-teman dengan membuat pisau dari paku yang digilaskan di roda rel
dekat rumahnya di Kemayoran, adalah kegiatan seru yang menyenangkan. Juga bersepeda
beramai-ramai di akhir pekan ke kawasan Ancol, sambil jajan penganan murah,
buah lontar.
Kelas 1 hingga kelas 2 SD sekolah
diantar jemput oleh Kak Ana, seorang sanak keluarga dari Sibolga, dengan naik
oplet. Selanjutnya kelas 3 SD sudah bisa pulang-pergi sekolah sendiri. Saat
usia SMP, Bapaknya ( Abdul Gafar Tanjung ) yang saat itu telah mempunyai
percetakan, koran, transportasi dll gulung tikar dan dinyatakan pailit oleh
pemerintah karena idealismenya yang bertentangan dengan pemerintah yang berkuasa
saat itu (Soeharto).
Sang ayah adalah Ketua Partai
Nasional Indonesia (PNI) Ranting Sawah Besar. Semua koran Bapaknya dibredel.
Semua aset dijual hingga tak memiliki rumah satu pun. Mungkin demi gengsi, di
awal-awal, Bapaknya menyewa sebuah losmen di kawasan Kramat Raya, Jakarta untuk
tinggal mereka sekeluarga. Hanya satu kamar, dengan kamar mandi di luar yang
kemudian dihuni 8 orang. Kedua orang tua Chairul, dan 6 orang anaknya, termasuk
Chairul sendiri. Tidak kuat terus-menerus membayar sewa losmen, mereka kemudian
memutuskan pindah ke daerah Gang Abu, Batutulis. Salah satu kantong kemiskinan
di Jakarta waktu itu. Rumah tersebut adalah rumah nenek Chairul, dari
ibundanya, Halimah.
Ibunya adalah sosok yang jarang
sekali mengeluhkan kondisi, sesulit apapun keadaan keluarga. Namun saat itu,
Chairul melihat raut wajah ibunya sendu, tidak ceria dan tampak lelah. Setelah
ditanya, lebih tepatnya didesak Chairul, Ibunya baru berucap : ”Kamu punya
sedikit uang, Rul? Uang ibu sudah habis dan untuk belanja nanti pagi sudah
tidak ada lagi. Sama sekali tidak ada”. (Tidak diceritakan lebih jelas akhirnya
mendapat solusi dari mana), namun kita bisa tahu bahwa di usia SMP, Chairul
sudah menyadari bagaimana kesulitan orang tuanya, bahkan untuk makan
sehari-hari. Dan Ibunya adalah sosok yang sangat tabah menjalani kerasnya
kehidupan).
Setamat kuliah, Chairul berekan
dengan orang lain dalam membangun sebuah pabrik sepatu. Setelah 3 bulan awal
dimulainya pabrik tersebut dilalui dengan terlunta-lunta dengan tanpa pesanan. Disaat
pabrik terancam bangkrut, datanglah pesanan sendal dari luar negeri sejumlah
12.000 pasang dengan estimasi 6.000 pasang dikirim awal. Dan berubahlah pabrik
tersebut dari pabrik sepatu menjadi pabrik sendal. Saat melihat hasil kerja
pabrik tersebut, pihak pemesan merasa tertarik dan langsung melakukan pesanan
kembali bahkan mencapai angka 240.000 pasang padahal yang awalnya 12.000 pasang
tadi masih 6.000 pasang yang dikirim. Mulailah pabrik tersebut berkembang.
Setelah beberapa lama akhirnya Chairul memutuskan berhenti berekan dan mulai
membangun bisnis dengan modal pribadi dan menjelma menjadi pengusaha yang
mandiri.
Kondisi ekonomi keluarganya yang
sulit membuat orang tuanya tidak sanggup membayar uang kuliah Chairul yang
waktu itu hanya sebesar Rp75.000. “Tahun 1981 saya diterima kuliah di Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI). Uang masuk ini dan itu total
Rp75.000. Tanpa saya ketahui, secara diam-diam ibu menggadaikan kain halusnya
ke pegadaian untuk membayar uang kuliah,” katanya lirih.
Melihat pengorbanan sang ibu, ia
lalu berjanji tidak ingin terus-menerus menjadi beban orang tua. Sejak saat
itu, ia tidak akan meminta uang lagi kepada orang tuanya. Ia bertekad akan
mencari akal bagaimana caranya bisa membiayai hidup dan kuliah. CT pria
kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 pada awalnya memulai bisnis kecil-kecilan. Dia
bekerjasama dengan pemilik mesin fotokopi, dan meletakkannya di tempat
strategis yaitu di bawah tangga kampus. Mulai dari berjualan buku kuliah
stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada
teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan
kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat
sosialnya – yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering
menraktir teman – usaha itu bangkrut. Memang terbilang terjal jalan yang harus
ditempuh Chairul Tanjung sebelum menjadi orang sukses seperti sekarang ini.
Kepiawaiannya membangun jaringan bisnis telah memuluskan perjalanan bisnisnya.
Salah satu kunci sukses dia adalah
tidak tanggung-tanggung dalam melangkah. Menurut penuturan Chairul, gedung tua
Fakultas Kedokteran UI dulu belum menggunakan lift. Dari lantai satu hingga
lantai empat masih menggunakan tangga. Lewat ruang kosong di bawah tangga ini,
Chairul muda melihat peluang yang bisa dimanfaatkannya untuk menghasilkan uang.
“Nah, kebetulan ada ruang kosong di
bawah tangga. Saya lalu berpikir untuk bisa memanfaatkannya sebagai tempat
fotokopi. Tapi, masalahnya, saya tidak mempunyai mesin fotokopi. Uang untuk
membeli mesin fotokopi pun tidak ada,” tuturnya. Dia pun lantas mencari akal
dengan mengundang penyandang dana untuk menyediakan mesin fotokopi dan membayar
sewa tempat. Waktu itu ia hanya mendapat upah dari usaha foto kopi sebesar Rp2,5
per lembar. “Sedikit ya. Tapi, karena itu daerah kampus, dalam hal ini
mahasiswa banyak yang fotokopi, maka jadilah keuntungan saya lumayan besar,”
katanya sambil melempar senyum. Tidak hanya sampai di situ, ia pun terus
berusaha mengasah kemampuannya dalam berbisnis. Usaha lain, seperti usaha
stiker, pembuatan kaos, buku kuliah stensilan, hingga penjualan buku bekas
dicobanya.
Usai menyelesaikan kuliah, Chairul
memberanikan diri menyewa kios di daerah Senen, Jakarta Pusat, dengan harga
sewa Rp1 juta per tahun. Kios kecil itu dimanfaatkannya untuk membuka CV yang
bergerak di bidang penjualan alat-alat kedokteran gigi. Sayang, usaha tersebut
tidak berlangsung lama karena kios tempat usahanya lebih sering dijadikan
tempat berkumpul teman-temannya sesama aktivis. “Yang nongkrong lebih banyak
ketimbang yang beli,” kata mahasiswa teladan tingkat nasional 1984-1985 ini. Selang
berapa tahun, ia mencoba bangkit dan melangkah lagi dengan menggandeng dua
temannya mendirikan PT Pariarti Shindutama yang memproduksi sepatu. Ia
mendapatkan kredit ringan dari Bank Exim sebesar Rp150 juta. Kepiawaiannya
membangun jaringan bisnis membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak
160.000 pasang dari pengusaha Italia.
Bisnisnya terus berkembang. Ia mulai
mencoba merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah
usahanya yang sedang merambat naik, tiba-tiba dia terbentur perbedaan visi
dengan kedua rekannya. Ia pun memutuskan memilih mundur dan menjalankan sendiri
usahanya. Memang tidak jaminan, seseorang yang berkarier sesuai dengan latar
belakang pendidikannya akan sukses. Kenyataannya tidak sedikit yang berhasil
justru setelah mereka keluar dari jalur. “Modal dalam usaha memang penting,
tapi mendapatkan mitra kerja yang andal adalah segalanya. Membangun kepercayaan
sama halnya dengan membangun integritas dalam menjalankan bisnis,” ujar Chairul
Tanjung yang lebih memilih menjadi seorang pengusaha ketimbang seorang dokter
gigi biasa.
Dan pilihannya untuk menjadi
pengusaha menempatkan CT sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dengan
total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak
pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya
kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu. Hal itulah yang barangkali membuat
Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan
kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya.
Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari
PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas
Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk
kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya. Kini Grup Para mempunyai kerajaan
bisnis yang mengandalkan pada tiga bisnis inti. Pertama jasa keuangan seperti
Bank Mega, Asuransi Umum Mega, Aanya yaitu bisnis televisi, TransTV.
Pada bisnis pertelevisian ini, ia
juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini
berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses. Langkah ekspansi
selanjutnya adalah mendirikan perusahaan patungan dengan mantan wapres Jusuf
Kalla membentuk taman wisata terbesar “TRANS STUDIO” di Makassar, untuk menyaingi
keberadaan Universal Studio yang ada di Singapura. Taman hiburan dalam ruangan
terbesar di Indonesia inipun sekarang telah merambah kota Bandung, dan sebentar
lagi kota-kota besar di Indonesia lainnya.
Pada tahun 1994, Chairul resmi
meminang gadis pujaannya yaitu Anita yang juga merupakan adik kelasnya sewaktu
kuliah. Dan pada tahun 1996, Chairul memperoleh berkah yang berlimpah karena
pada tahun tersebut lahirlah anak pertamanya dan bersamaan dengan diputuskannya
Chairul sebagai pemilik dari Bank Mega. Chairul
Tanjung dikenal sebagai pengusaha yang agresif, ekspansi usahanya
merambah segala bidang, mulai perbankan dengan bendera Bank Mega Group, pertelivisian Trans TV dan Trans 7,hotel dengan bendera The Trans, di bidang supermarket,
CT (panggilan akrab Chairul Tanjung) mengakuisisi Carrefour, pesawat terbang,
hingga bisnis hiburan TRANS STUDIO,
dan bisnis lainnya.
BAB
II
Landasan
Teori
B. TEORI
KEPRIBADIAN VICTOR FRANKL
Logoterapi, Makna Kehidupan dan
Kepribadian Sehat
Logoterapi
berasal dari kata logos yang telah diadopsi dari bahasa Yunani dan berarti
“makna” (meaning) dan juga “ruhani” (spirituality). Logoterapi ditopang oleh
filsafat hidup dan insight mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi
spiritual, selain dimensi somatis, dimensi psikologis dan dimensi sosial pada
eksistensi manusia, serta menekankan pada makna hidup dan kehendak untuk hidup
bermakna sebagai potensi manusia. Dalam logoterapi dimasukkan pula kemampuan
khas manusia, yaitu self-detachment dan self-trancendence yang keduanya
menggambarkan adanya kebebasan dan rasa tanggung jawab. Karakteristik
eksistensi manusia menurut logoterapi adalah: keruhanian (spirituality),
kebebasan (freedom), dan tanggung jawab (responsibility)
Setiap
model psikoterapi yang berusaha mengembalikan kebebasan manusia sebagai sesuatu
yang kodrati, pastilah akan bersinggungan dengan dua mazhab besar diatas.
Begitu juga Logoterapi. Frankl berusaha mengembalikan kebebasan sebagai sesuatu
yang berharga bagi manusia. Filsafat manusia yang mendasari Logoterapi adalah
semangat untuk hidup autentik guna mencapai kebebasan lewat upaya untuk hidup
bermakna.
Frank
membangun Logoterapi diatas tiga asumsi dasar yang satu sama lain
saling mempengaruhi, yaitu :
1.
Fredom of will (kebebasan kemauan)
Frankl
sangat menantang pendekatan-pendekatan psikologi/psikiatri yang menyatakan
kondisi manusia dipengaruhi dan ditentukan oleh insting-insting biologis atau
konflik masa kanak-kanak atau sesuatu kekuatan dari luar lainnya. Menurut
Frankl meskipun kondisi luar tesebut mempengaruhi kehidupan, namun individu
bebas memilih reaksi dalam menghadapi kondisi-kondisi tersebut. Manusia memang
tidak akan dapat bertahan dan mampu menghilangkan kekuatan-kekuatan luar tersebut,
tetapi bebas memilih sikap untuk menghadapi, merepson dang menangani kekuatan
tersebut. Manusia harus menghargai kemampuannya dalam mengambil sikap untuk
mencapai kondisi yang diinginkannya. Manusia tidak sepenuhnya dikondisikan
dan ditentukan oleh lingkungannya, namun dirinyalah yang lebih menentukan apa
yang akan dilakukan terhadap berbagai kondisi itu. Dengan kata lain manusialah
yang menentukan dirinya sendiri.
2.
Will to Meaning (kemauan untuk hidup bermakna)
Kehendak/
kemauan akan arti kehidupan maksudnya kebutuhan manusia untuk terus mencari
makna hidup untuk eksistensinya. Semakin individu mampu mengatasi dirinya maka
semakin ia mengarah pada suatu tujuan sehingga ia menjadi manusia yang
sepenuhnya. Arti yang dicari tersebut memerlukan tanggung jawab pribadi karena
tidak seorangpun bisa memberikan pengertian dan menemukan maksud dan makna
hidup kita selain diri sendiri. Dan itu merupakan tanggung jawab masing-masing
pribadi untuk mencari dan menemukannya. Menurut Frankl keinginan untuk hidup
yang bermakna ini merupakan motivasi utama yang tedapat pada manusia untuk
mencari, menemukan dan memenuhi tujuan dan arti hidupnya.
3.
Meaning of Life (makna hidup)
Pada
dasarnya, manusia adalah makhluk yang selalu berusaha untuk memaknai hidupnya.
Pada beberapa orang, pencarian makna hidup bisa berakhir dengan keputusasaan.
Keputusasaan dan kehilangan makna hidup ini merupakan neurosis, dan Frankl
menyebut kondisi ini noogenic neurosis. Sebutan itu bermakna bahwa
neurosis ini berbeda dengan yang disebabkan oleh konfliks psikologis dalam
individu. Noogenic neurosis menggambarkan perasaan tidak bermakna,
hampa, tanpa tujuan dan seterusnya. Orang-orang seperti ini berada dalam
kekosongan eksistensial (existential vacuum). Tetapi Frankl mengatakan bahwa
kondisi tersebut lumrah terjadi di zaman modern ini. Frankl menganggap bahwa
makna hidup itu bersifat unik, spesisfik, personal, sehingga masing-masing
orang mempunyai makna hidupnya yang khas dan cara penghayatan yang berbeda
antara pribadi yang satu dengan yang lainnya.
Mencari
arti dapat merupakan tugas yang membingungkan, menantang dan menambah tegangan
bukan mengurangi tegangan batin, namun sesungguhnya menurut Frankl, peningkatan
tegangan ini adalah prasyarat untuk kesehatan psikologis. Kaitannya dengan
kepribadian, menurut Frankl, suatu kepribadian yang sehat mengandung tingkat
tegangan tertentu antara apa yang telah dicapai dan apa yang harus dicapai
dimana orang – orang yang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang akan
memberikan arti tersebut
.
Ada 3 cara yang dikemukakan oleh
logotherapy untuk menuntun pada pencarian arti kehidupan, yaitu:
1.
Dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan / karya.
2.
Dengan mengambil sesuatu dari dunia melalui pengalaman
3.
Dengan sikap yang diambil manusia dalam menyikapi penderitaan.
Ketiga cara tersebut kemudian
terkait dengan tiga sistem nilai dalam pemberian arti kepada kehidupan, yaitu:
1. Nilai – nilai daya cipta : yang menyangkut pemberian kepada dunia,
diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan produktif. Arti diberikan kepada
kehidupan melalui tindakan yang menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau ide
yang tidak kelihatan atau dengan melayani orang – orang lain yang merupakan
suatu ungkapan individu.
2. Nilai
– nilai pengalaman : menyangkut penerimaan dari dunia, diwujudakan dengan
menyerahkan diri kepada keindahan yang ada di alam sekitar atau seni. Menurut
Frankl ada kemungkinan memenuhi arti kehidupan dengan mengalami beberapa segi
kehidupan secara intensif, walaupun individu tidak melakukan suatu tindakan
yang positif. Yang menentukan bukan berapa banyak puncak yang kita capai atau
berapa lama seseorang tinggal dalam tingkatan pencapaian tersebut namun
intensitas yang kita alami terhadap hal – hal yang kita miliki.
3. Nilai-nilai
sikap : Situasi-situasi yang menimbulkan nilai-nilai sikap ialah
situasi-siatuasi dimana manusia tak mampu mengubah atau menghindari situasi
tersebut. Apabila dihadapkan dalam situasi ini maka satu-satunya cara untuk
menyikapinya adalah menerima situasi tersebut. Cara bagaiman manusia menerima
situasi tersebut, keberanian dalam menahan penderitaan tersebut, kebijaksanaan
yang kita perlihatkan ketika berhadapan dengan bencana marupakan ujian dan
ukuran terakhir dari pemenuhan kita sebagai manusia.
Orang-orang
yang menemukan arti dalam kehidupan mencapai keadaan transedensi diri, keadaan
yang terakhir untuk kepribadian yang sehat. Dalam pandangan Frankl dorongan
utama dalam kehidupan adalah bukan diri melainkan arti. Menjadi manusia
sepenuhnya berarti mengadakan hubungan dengan seseorang atau orang lain di luar
diri sendiri.
Menurut Frankl, terdapat dua tujuan
yang berorientasi pada diri adalah kesenangan dan aktualisasi diri.
1.
Frankl menyatakan semakin banyak kita dengan sengaja berjuang untuk kesenangan
maka mungkin semakin kurang kita mendapatkannya.
2.
Satu-satunya cara untuk mengaktualisasikian-diri ialah melalui pemenuhan arti
di luar diri.
Dari
pengalaman hidupnya, Frankl belajar bahwa manusia dapat kehilangan segala
sesuatu yang dihargainya kecuali kebebasan manusia yang sangat fundamental
yaitu kebebasan untuk memilih suatu sikap atau cara bereaksi terhadap nasib
kita, kebebasan untuk memlilih cara kita sendiri. Apa yang berarti dalam
eksistensi manusia, bukan semata-mata nasib yang menantikan kita, tetapi
bagaimana cara kita menerima nasib itu. Frankl percaya bahwa arti dapat
ditemukan dalam semua situasi, termasuk penderitaan dan kematian. Frankl
berasumsi bahwa hidup ini adalah penderitaan, tetapi untuk menemukan sebuah
arti dalam penderitaan maka kita harus terus menjalani dan bertahan untuk tetap
hidup. Frankl menyatakan pentingnya dorongan dalam mencari sebuah arti untuk
eksistensi manusia sebagai suatu sistem, yang kemudian
disebut logoterapy. Logoterapy kemudian menjadi model psikoterapinya.
Menurut
Frankl, keadaan dimana seorang individu kekurangan arti dalam kehidupan disebut
sebagai kondisi noőgenic neurosis. Inilah keadaan yang bercirikan tanpa arti,
tanpa maksud, tanpa tujuan dan hampa. Menurut Frankl, individu semacam ini
berada dalam kekosongan eksistensial (existential vacuum)
Menurut Frankl, hakekat dari
eksistensi manusia terdiri dari 3 faktor, yaitu:
1. Spiritualitas
Spiritualitas adalah suatu konsep
yang sulit dirumuskan, tidak dapat direduksikan, tidak dapat diterangkan dengan
istilah – istilah material, meskipun dapat dipengaruhi oleh dunia material,
namun tidak dihasilkan atau disebabkan oleh dunia material itu.
Merupakan
suatu konsep yang sulit dirumuskan namun tidak dapat direduksikan dan tidak
dapat diterangkan dengan bentuk-bentuk yang bersifat material, kendatipun
spiritual dapat dipengaruhi oleh dimensi kebendaan. Namun tetap saja
spiritualitas tidak dapat disebabkan ataupun dihasilkan oleh hal-hal yang
bersifat bendawi tersebut. Istilah spiritual ini dapat disinonimkan dengan
istilah jiwa
Manusia
tidak dapat didikte oleh faktor-faktor non-spiritual seperti instink, kondisi
spesifik, atau lingkungan
2. 2. Kebebasan.
Adanya suatu keadaan dimana manusia
tidak didikte oleh faktor – faktor non spiritual, insting, warisan kita yang
khusus atau kondisi lingkungan.
Kebebasan
tidak dibatasi oleh hal-hal yang bersifat non spiritual, oleh insting-insting
biologis, apalagi oleh kondisi-kondisi lingkungan. Manusia dianugerahi
kebebasan oleh penciptanya, dan dengan kebebasan tersebut ia diharuskan untuk
memilih bagaimana hidup dan bertingkah laku yang sehat secara psikologis.
Individu
yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan kebebasan yang dianugerahkan Tuhan
kepadanya, adalah individu yang mengalami hambatan psikologis atau neurotis.
Individu yang neurotik akan menghambat pertumbuhan sekaligus pemenuhan potensi-
potensi yang mereka miliki, sehingga akan mengganggu perkembangan sebagai
individu secara penuh.
3. 3. Tanggung
jawab
Tidak cukup merasa bebas untuk
memilih namun manusia juga harus menerima tanggung jawab terhadap pilihan
tersebut. Logotherapy mengingatkan manusia terhadap tanggung jawab dengan
kalimat berikut, “Hiduplah seolah – olah anda hidup untuk kedua kalinya, dan
bertindak salah untuk pertama kalinya kira – kira demikian anda bertindak
sekarang.”
Akibat kegagalan pencapaian
kebermanaan hidup
Frankl
(2004) menandai adanya dua tahapan pada sindroma ketidakbermaknaan tersebut. :
Tahap
awal dari sindroma ketidakbermaknaan adalah frustasi
eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga dengan
kehampaan eksistensial (exsistetial vacuum) yaitu fenomena umum yang
berkaitan degan keterhambatan atau kegagalan individu dalam memenuhi keinginan
akan makna (Koesworo,1992). Frustasi eksistensial sejauh tidak disertai
simptom-simptom klinis tertentu, bukanlah suatu penyakit dalam pengertian
klinis, melainkan suatu penderitaan batin yang berkaitan dengan ketidakmampuan
individu dalam menyesuaikan diri dan mengatasi masalah-masalah persoalanya
secara efisien (Frankl, 2004).
Suatu
fenomena umum dialami manusia pada masa kini adalah tidak lagi memiliki
kepastian mengenai apa yang harus diperbuatnya dan apa saja yang sepatutnya
diperbuat. Frustasi eksistensial tidak nampak jelas namun pada umumnya ditandai
dengan hilangnya minat, kurang inisiatif, serta perasaan hampa (Frankl, 2004).
Tahapan
kedua adalah neurosis noogenik (noogenic neuroses), yaitu suatu
manifestasi khusus dari frustasi eksistensial yang ditandai dengan
simptomatologi neurotik klinis tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl
menggunakan istilah neurosis noogenik untuk membedakan degan keadaan neurosis
somatogenik, yaitu neurosis yang berakar pada kondisi fisiologis tertentu dan
neurosis psikogenik yaitu neurosis yang bersumber pada konflik-konflik
psikologis.
Neurosis
noogenik berkaitan dengan inti spiritual kepribadian dan bukan menurut peran
serta agama, melainkan suatu dimensi eksistensi manusia, khususnya menunjuk
pada konflik-konflik moral (Schults,1991). Neurosis noogenik dapat
termanifestasikan dalam tampilan simptomatik yang serupa dalam gambaran
simptomatik neurosis psikogenik, seperti depresi, hiperseksualitas,
alkoholisme, obsesionalisme, dan tindakan kejahatan.
Crumbaugh
dan Maholick menambahkan, bahwa kekurangan makna hidup mengisyaratkan kegagalan
individu dalam menemukan pola-pola tujuan dan nilai yang terintegrasi dalam
hidup, sehingga terjadi penimbunan energi yang membuat individu lemah dan kehilangan
semangat untuk berjuang mengatasi berbagai hambatan, termasuk hambatan dalam
mencapai makna (Koesworo,1992). Keinginan terhadap makna akan tetap ada dalam
individu, tetapi dikarenakan individu tidak memiliki pola yang terorganisasi
sebagai titik tolak pencapaian makna, maka keinginan tersebut tidak dapat
terwujud. Sehingga tekanan yang ditimbulkan oleh frustasi eksistensial menjadi
semakin kuat. Peningkatan tekanan tersebut menjadikan individu terus-menerus
berada dalam pencarian cara-cara yang diharapkan sehingga dapat menjadi saluran
bagi pengurangan tekanan tersebut. Cara termudah yang dapat dan seringkali
dipilih individu untuk mengurangi tekanan adalah dengan melarutkan diri dalam
arus pengalaman yang bersifat kompensasi dan menyesatkan, seperti alkohol, obat
bius, narkoba, perjudian, dan melakukan petualangan seksual.
Gambaran Kepribadian Sehat menurut Viktor
Frankl, yaitu :
1. Bebas
memilih tindakan sendiri
2. Bertanggung
jawab terhadap tindakan, dan sikap terhadap kehidupan mereka sendiri
3. Tidak
ditentukan oleh kekuatan diluar diri mereka
4. Sadar
mengontrol kehidupannya
5. Mampu
mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, pengalaman dan nilai sikap
6. Mampu
mengatasi dan perhatian akan diri manusia
BAB
III
Analisis
Tokoh
Dalam analisis ini di bahas dengan mengaitkan dengan
teori pada bab sebelumnya, yaitu teori Viktor Frankl .
Frank
membangun Logoterapi diatas tiga asumsi dasar yang satu sama lain
saling mempengaruhi, yaitu :
1. Fredom
of will (kebebasan kemauan)
Dalam
hal ini Chairul Tanjung (CT) bebas memilih atau bebas menetukan kemauan nya.
Mulai dari ia senang bermain dengan temannya, ia muali menentukan usaha usaha
yang akan ia jalani, itu semua di lakukan karena kebebasan kemauan yang ada
pada diri nya
2. Will
to Meaning (kemauan untuk hidup bermakna)
Kemauan
untuk hidup bermakna ini di jalani oleh CT dengan ia berusaha membuka usaha,
sehingga ia dapat terus kuliah tanpa membebankan orang tua nya . karena pada
saat itu kehidupan keluarga CT sedang dalam kesusahan sampai sampai sang ibu
bertanya kepada CT “ apakah kamu memiliki sedikit uang, Rul ?” . “ ibu sudah
tidak memiliki uang untuk belanja besok “. dengan pertanyaan sang ibu seperti
itu, namun kita bisa tahu bahwa di usia
SMP, Chairul sudah menyadari bagaimana kesulitan orang tuanya, bahkan untuk
makan sehari-hari. Dan Ibunya adalah sosok yang sangat tabah menjalani kerasnya
kehidupan). Dengan kesulitan yang di jalani tetap ada usaha untuk hidup
bermakna .
3.
Meaning of Life (makna hidup)
Makna hidup yang CT jalani dengan upaya untuk
meningkatkan ekonomi keluarga agar dapat bertahan hidup, yang di mulai usaha
kecil kecilan, lalu setelah tamat kuliah ia usaha sepatu, dan juga ada hambatan
yang ia jalani yakni usaha sepatu nya tidak ada yang memesan, tetapi hambatan
itu dapat di selesaikan karena tidak lama setelah itu ada banyak pesanan, yang
sampai akhirnya ia mempunyai banyak asset dan sekarang menjadi orang terkaya
ketujuh di Indonesia.
Gambaran Kepribadian Sehat menurut Viktor
Frankl, yaitu :
1. Bebas
memilih tindakan sendiri
2. Bertanggung
jawab terhadap tindakan, dan sikap terhadap kehidupan mereka sendiri
3. Tidak
ditentukan oleh kekuatan diluar diri mereka
4. Sadar
mengontrol kehidupannya
5. Mampu
mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, pengalaman dan nilai sikap
6. Mampu
mengatasi dan perhatian akan diri manusia
Berdasarkan cerita
diatas, biografi Chairul Tanjung di gambarkan dengan kepribadian sehat menurut
Viktor Frankl, yaitu :
1. CT bebas
memilih tindakan nya sendiri
2. Bertanggung
jawab terhadap tindakan ang ia lakukan, contohnya dengan membuka usaha yang
mengalami kebangkrutan sampai akhirnya ia mengalami kesuksesan
3. Dalam hal
ini CT tidak di tentuka oleh kekuatan diri mereka / lingkungan, semua yang ia
lakukan karena kehendak nya sendiri
4. CT juga
sadar akan mengontrol kehidupannya, meskipun ia membuka usaha tetapi ia tetap
teguh menjadi dokter gigi, kerana memang dari awal ia kuliah mengambil fakultas
kedokteran gigi ia bertekad iangin menjadi dokter gigi
5. Mampu
mengungkapkan nilai-nilai daya cipta denga membuktikan usaha sepatu nya dapat
sukses dan usaha-usaha lainnya yang tentu nya di lalui dengan daya cipta
kreatif, belaajar dari pengalaman, dn sikap yang teguh
6. C T juga
mampu mengatasi diri dan perhatian terhadap diri nya, yang di maksudkan ia
dapat menyelesaikan masalah masalah hidup, masalah usaha dengan baik .
BAB
IV
Kesimpulan
Dalam pembahasan biografi Chairul Tanjung yang di
bahas melalui kepribadian sehat nya menurut Viktor Frankle, yakni CT menjadi
orang yang berkepribadian sehat, karena dari 6 poin yang di kemukakan oleh
Viktor Frankl ia melewati poin 1-6 dengan
berusha yang baik. Dan jika membahas tentang aktualisasi diri, disini
aktulisasi dirinya ia berusaha meningkatkan perekonomian keluarga, melalui
permbelajaran hidup sulit yang ia jalan semasa kecil nya , yang akhirnya
membuat Chairul Tanjung semangat untuk terus menjalani hidup ini dengan sebaik
baik nya , dan terus berusaha melakukan sesuatu positif yang dapat memberikan
keuntungan bagi diri nya tersebut.
Mungkin, cukup sampai disini dulu yaaa. semoa bermanfaat :)
YUK TERUS MENVARI TAHU !
Daftar Referensi
Diredja, Gunawan . 2012. Chairul Tanjung si anak singkong. Jakarta : Kompas
Feist, Jess. Feist, Gregory J. 2011. Teori
Kepribadian (Theories of Personality).Edisi 7. Jilid 2. Jakarta: Salemba
Humanika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar