Translate

Minggu, 06 Juli 2014

SEJARAH INTELEGENSI BESERTA PENDEKATAN-PENDEKATANNYA

Hey blogger, jumpa kembali nih J
Pembahasan kali ini mengenai sejarah intelegensi beserta pendekatan pendekatannya,
YUK MARI DI SIMAK J

Seperti yang telah kita ketahui bahwa masing-masing individu berbeda-beda intelegensinya. Karena perbedaan tersebut sehingga antara individu tidak sama kemampuannya dalam memecahkan suatu persolan yang dihadapi. Mengenai perbedaan intelegensi ini terdapat dua pandangan, yaitu :

·         Perbedaan Kualitatif
Pandangan yang berpendapat bahwa perbedaan intelegensi individu satu dengan yang lainnya itu memang secara kulaitatif berbeda, jadi pada dasarnya memang berbeda.

·         Pandangan Kuantitatif
Pandangan yang berpendapat bahwa perbedaan intelegensi individu satu dengan yang lainnya itu karena perbedaan materi yang diterima atau karena perbedaan dalam proses belajarnya. Meskipun demikian, kedua peandangan tersebut mengakui bahwa antara individu memiliki intelegensi yang berbeda.

Persoalan lain yang timbul dalam hal ini adalah tentang cara mengetahui taraf intelegensi tersebut. Dalam masalah ini, beberapa ahli psikologi yang memberikan kontribusinya adalah:

1. Sejarah Tes Intelegensi
Pada abad XIV, di cina, telah berlangsung usaha untuk mengukur kompetensi para pelamar jabatan pegawai negara. Untuk dapat diterima sebagai pegawai, para pelamar harus mengikuti ujian, ujian tertulis mengenai pengetahuan konvusion klasik dan mengenai kemampuan menulis puisi. Ujian ini berlangsung sehari semalam di tingkat distrik. Kurang dari 7% pelamar yang biasanya lulus tingkat distrik kemudian harus mengikuti ujian berikutnya yang berupa menulis prosa dan sajak. Dalam ujian ke 2 ini kurang dari 10% peserta yang lulus. Akhirnya barulah ujian tingkat akhir diadakan di peking dimana diantara para peserta terakhir ini hanya lulus 3% saja. Lulusan ini kemudian diangkat menjadi mandarin dan bekerja sebagai pegawai negara. Dengan demikian dari ke 3 tahap ujian tersebut hanya 5 diantara 100.000 pelamar yang akhirnya menjadi mandarin.

Mungkin suatu kebetulan, bahwa awal perkembangan pengukuran mental berpusat pada kempuan yang bersifat umum yang kita kenal sebagai tes intelegensi. Usaha pengukuran intelegensi berkembang dalam kurun waktu yang kurang lebih serempak di amerika serikat dan Perancis.

Di amerika, usaha pertama tersebut dimulai oleh tokoh pencetus istilah “tes mental”, James Mckeen Cattell (1860-1944), yang menerbitkan bukunya mental tes and measuremens di tahun 1890. buku ini berisi serangkaian tes intelegensi yang terdiri atas 10 jenis ukuran. Ke 10 macam ukuran tersebut adalah:

a. Dinamo meter peasure, yaitu ukuran kekuatan tangan menekan pegas yang dianggap sebagai indikator aspek psikofisiologis
b. Rate of movement, yaitu kecepatan gerak tangan dalam satuan waktu tertentu yang dianggap memiliki komponen mental didalamnya.
c. Sensation areas, yaitu pengukuran jarak terkecil diantara 2 tempat yang terpisah dikulit yang masih dapat dirasakan sebagai 2 titik berbeda.
d. Peasue caosing pain, yaitu pengukuran yamg dianggap berguna dalam diaknosis terhadap penyakit saraf dan dalam mempelajari status kesadaran abnormal.
e. Least noticabele difference in weight, yaitu pengukuran perbedaan berat yang terkecil yang masih dapat dirasakan seseorang.
f. Reaction time for sound, yang mengukur waktu antara pemberian stimulus dengan timbulnya reaksi tercepat.
g. Time for naming colors, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap proses yanglebih”mental”daripada waktu-reaksi yang dianggap reflektif.,
h. Bisection of a 50-cm line, yang dianggap sebagai suatu ukuran terhadap akurasi “ space judgment’
i. Judgment of 10second time, yang dimaksudkan sebagai ukuran akurasi dalam ‘time judgment’( subyek diminta menghitung 10 detik tampa bantuan apapun).
j. Number of latters repeated upon once hearing, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap perhatian dan ingatan( subyek diminta mengulang huruf yang sudah disebutkan 1x)

2. Latar Belakang Tes Intelegensi

a. E. Seguin (1812 – 1880) disebut sebagai pionir dalam bidang tes intelegensi yang mengembangkan sebuah papan yang berbentuk sederhana untuk menegakkan diagnosis keterbelakangan mental. Kemudian usaha ini distandanisir oleh Henry H. Goddard (1906). E. Seguin digolongkan kepada salah seorang yang mengkhususkan diri pada pendidikan anak terkebelakang dan disebut juga bapak dari tes performansi.
b. Joseph Jasnow (1863 – 1944) adalah merupakan salah satu dari beberapa orang yang pertama kali mengembangkan daftar norma-norma dalam pengukuran psikologis.
c. G.C. Ferrari (1896) mempublikasikan tes yang bisa dipakai untuk mendiagnosis keterbelakangan mental.
d. August Oehr mengadakan penelitian inhmetasi antara berbagai fungsi psikologis (h. 14).
e. E. Kraepelin, seorang psikotes menyokong usaha ini, empat macam tes yang dikembangkan, di antaranya yaitu:
 Koordinasi motoric
 Asosiasi kata-kata
 Fungsi persepsi
 Ingatan
f. E. Kraepelin juga mengembangkan tes intelegensi yang berkaiatan dengan tes penataran aritmatik dan kalkulasi sederhana tahun 1895.

Di samping itu berkembang pula tes yang dipakai untuk kelompok (group). Hal ini diawali dengan tes verbal untuk seleksi tentara (wajib militer) yang disebut dengan Army Alpha. Untuk yang buta huruf atau tidak bisa berbicara bahasa Inggris dipergunakan Army Beta sekitar tahun 1917 – 1918, tes ini dipakai hampir dua juta orang.

3. Jenis-Jenis Tes Intelegensi
     Berdasarkan penataannya ada beberapa jenis tes intelegensi, yaitu :

a) Tes Intelegensi individual, beberapa di antaranya:
 Stanford – Binet Intelegence Scale.
 Wechster – Bellevue Intelegence Scale (WBIS)
 Wechster – Intelegence Scale For Children (WISC)
 Wechster – Ault Intelegence Scale (WAIS)
 Wechster Preschool and Prymary Scale of Intelegence (WPPSI)
b) Tes Intelegensi kelompok, beberapa di antaranya:
 Pintner Cunningham Prymary Test
 The California Test of Mental Makurity
 The Henmon – Nelson Test Mental Ability
 Otis – Lennon Mental Ability Test
 Progassive Matrices
c) Tes Intellegensi dengan tindakan perbuatan
Untuk tujuan program layanan bimbingan di sekolah yang akan dibahas adalah tes intelegensi kelompok berupa:
 The California Test of Mental Maturity (CTMM)
 The Henmon – Nelson Test Mental Ability
 Otis – Lennon Mental Ability Test, and
 Progassive Matrices. (22)

Ada kalsifikasi atau standar tingkat IQ yang cukup berpengaruh yaitu klasifikasi dari Wechsler yang menciptakan tes WISC yang diperuntukan bagi anak-anak pada tahun 1949. Adapun kalsifikasi IQ-nya.

Name
IQ
Very superior
130 +
Superior
120 – 129
Bright normal
110 – 119
Average
90 – 109
Dull normal
80 – 89
Borderline
70 – 79
Mental defective
69 and below
          (Harriman, 1958)


4. Teori-Teori dan Pendekatan-Pendekatan Tentang Intelegensi

Diantara beberapa uraian ringkas mengenai teori intelegensi beserta tokohnya masing-masing sebagai berikut:
1. Alfred Binet mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetik yaitu berkembang dari suatu faktor satuan. Menurutnya intelegensi merupakan sisa tunggal dari karekteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.
2. Edward Lee Thorndike, teori Thorndike menyatakan bahwa intelegensi terdiri dari berbagai kemampuan spesifik yang ditampikan dalam wujud perilaku intelegensi.
3. Robert J. Sternberg, teori ini mentikberatkan pada kesatuan dari berbagai aspek intelegensi sehingga teorinya teorinya lebih berorientasi pada proses. Teori ini disebut juga dengan TeoriIntelegensi Triarchic. Teori ini berusaha menjelaskan secara terpadu hubungan antara:
a. Intelegensi dan dunia internal seseorang
b. Intelegensi dan dunia eksternal seseorang
c. Intelegensi dan pengalaman
Adapun dalam memahami hakikat intelegensi, Maloney dan Ward (1976) engemukakakn empat pendekatan umum, yaitu.
1) Pendekatan Teori Belajar
 Inti pendekatan ini mengenai masalah hakikat intelegensi terletak pada pemahaman mengenai hukum-hukum dan prinsip umum yang dipergunakan individu untuk memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru.
2. Pendekatan Neurobiologis
Pendekatan ini beranggapan bahwa intelegensi memiliki dasar anatomis dan biologis. Perilaku intelegensi menurut pendekatan ini dapat ditelusuri dasar-dasar neuro-anatomis dan neuro-fisiologisnya.
3. Pendekatan Psikomotorik
Pendekatan ini beranggapan bahwa intelegensi merupakan suatu konstrak atau sifat psikologis yang berbeda-beda kadarnya bagi setiap dua arah study, yaitu.
o Bersifat praktis yang menekankan pada pemecahan masalah.
o Bersifat teoritis yang menekankan pada konsep dan penyusunan teori
4. Pendekatan Teori Perkembangan
Dalam pendekatan ini, studi intelegensi dipusatkan pada masalah perkembangan intelegensi secara kuantitatif dalam kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis individu.
Faktor-Faktor dalam Intelegensi
Dalam intelgensi akan ditemukan faktor-faktor tertentu yang para ahli sendiri belum terdapat pendapat yang sama seratus persen. Berikut ini beberapa pendapat para ahli mengenai faktor-faktor dalam intelegensi
1. Thorndike dengan Teori Multi-Faktor
Teori ini menyatakan bahwa intelegensi itu tersusun dari beberapa faktor yang terdiri dari elemen-elemen, tiap elemen terdiri dari atom-atom, dan tiap atom itu terdiri dari stimulus-respon. Jadi, suatu aktivitas adalah merupakan kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya.
2. Spearman
Menurut Spearman intelegensi mengandung 2 macam faktor, yaitu:
o General ability atau general faktor (faktor G)
Faktor ini terdapat pada semua individu, tetapi berbeda satu dengan yang lainnya. Faktor ini selalu didapati dalam semua “performance”.
 Special ability atau special faktor (faktor S)
Faktor ini merupakan faktor yang khusus mengenai bidang tertentu. Dengan demikian, maka jumlah faktor ini banyak, misalnya ada S1, S2, S3, dan sebagainya sehingga kalau pada seseorang faktor S dalambidang tertentu dominan, maka orang itu akan menonjol dalam bidang tersebut.
Menurut Spearman tiap-tiap “performance” adanya faktor G dan faktor S, atau dapat dirumuskan. P=G+S
3. Burt
Menurut Burt dalam intelegensi terdapat 3 faktor
a) Special ability atau special faktor (faktor S)
b) General ability atau general faktor (faktor G)
c) Common ability atau common faktor disebut juga group factor (faktor C)
Faktor ini merupakan sesuatu kelompok kemampuan tertentu seperti kemampuan kelompok dalam bidang bahasa. Sehingga rumus “performance” menjadi P=G+S+C
4. Thurstone
Thurnstone mempunyai pandangan tersendiri. Dia berpendapat bahwa dalam intelegensi terdapat faktor-faktor primer yang merupakan “group factor”, yaitu:.
a. Spatial relation (S)
Kemampuan untuk melihat gambar tiga dimensi
b) Perceptual speed (P)
Kecepatan dan ketepatan dalam mempertimbangkan kesamaan dan perbedaan atau dalam merespon detil-detil visual.
c) Verbal comprehension (V)
Kemampuan memahami bacaan, kosakata, analogi verbal, dan sebagainya.
d) Word fluency (W)
Kecepatan dalam menghubug-hubngkan kata dengan berbagai rima dan intonasi.
e) Number facility (N)
Kecepatan ketepatan dalam perhitungan
f) Associative memory (M)
Kemampuan menggunakan memori untuk menghubungkan berbagi assosiasi.
g) Induction (I)
Kemampuan untuk menarik suatu kesimpulan suatu prinsip atau tugas.
Menurutnya faktor-faktor tesebut berkombinasi sehingga menghasilkan tindakan atau perbuatan yang intelegen.

Mungkin cukup sampai disini dulu yaaa, semoga bermanfaat :)
 YUK TERUS MENCARI TAHU !

Sumber :
http://www.psychologymania.net/2010/04/sejarah-pengukuran-intelegensi-jenis.html
diskusi kelas psikodiagnstik
Robert S. Feldman (2012). Pengantar Psikologi. Jakarta: Salemba Humanika



TES KEPRIBADIAN

Hey Blogger, jumpa kembali nih J
Saat ini pembahasan kita adalah tentang tes kepribadian. Yuk di simak! :”)

Sebelum berlanjut ke pembahasan, nah sebaiknya kita tahu apa sih definisi kepribadian itu sendiri.

 Kepribadian adalah pola karakteristik yang menetap dan menghasilkan konsistensi dan individualitas bagi seseorang. Kepribadian mencakup perilaku yang membuat masing-masing individu unik yang membedakan satu individu dengan individu lainnya (Robert S. Feldman, 2012).

Menurut Allport kepribadian adalah organisasi dinamik dalam individu atas sistem-sistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungannya.

Tes Inventori
·         Merupakan Self Report Questionnaire
·       Tes yang utamanya menggunakan paper and pencil.
·  Berguna untuk menentukan karakteristik kepribadian, minat, penyesuaian diri, motivasi, need, sikap, nilai.
·      Diawali dari bentuk personal interview dan kemudian berkembang menjadi personal information questionnaire.
·    Biasanya setiap satu jenis tes inventori hanya mengukur satu atau beberapa aspek kepribadian.
Beberapa Masalah dalam Tes Inventori
  1.  Defenisi-defenisi konseptual dari aspek yang diukur sangat banyak, sehingga perlu seleksi yang tepat dari macam-macam defenisi tersebut untuk mendasari penyusunan inventori
  2. Tes inventori tidak culture free, sehingga aspek budayaharus selalu dipertimbangkan. Budaya selalu berubah, sedangkan di sisi lain tes inventori diharapkan dapat memberikan gambaran yang stabil dan konsisten. Individu juga mengalami perubahan, karena pengalaman, proses belajar, proses pendewasaan. Terdapat kesan seolah-olah tes inventori sulit untuk mencapai reliabilitas yang diharapkan. Idealnya tes inventory dapat mengantisipasi aspek-aspek perubahan tersebut
  3. Tes inventori yang selalu sensitive terhadap perubahan akan sulit memperoleh reliabilitas yang tinggi. Namun yang penting adalah tes inventori masih memiliki kemampuan prediktif.

Kelemahan Tes Inventori
1.     Itemnya ambigu dan perintah kadang kurang jelas.
2.    Adanya kesulitan semantic, sehingga bias menimbulkan penafsiran berbeda.
3.    Acquescence, yaitu adanya item-item yang mengarah pada jawaban tertentu.
4.    Bisa memunculkan keinginan testee untuk menunjukkan kesan tertentu pada tester.
5.    Testee tidak kooperatif.
6.    Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan tersebut, tester perlu memahami tes dengan baik.

Jenis-Jenis Tes Inventori Kepribadian

       1. MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory):
   Terdiri dari 550 pernyataan positif yang diberikan jawaban beenaratau salah dan tidak dapat mengatakan, item MMPI menggali areayang sangat luas seperti: kesehatan, symptom psikosomatis, gangguan neurologis, gangguan motoric, seksual, religious, sikap social, pendidikan, pekerjaan, keluarga, perkawinan, manifes perilaku neurotic atu psikotik (missal obsesi kompulsif, delusi, halusinasi, referensi ide,fobia, sadis-masokis
         2. PIC (Personality Inventory for Children)
·         Dirancang untuk anak-anak dan remaja usia 6 – 16 tahun
·         Dapat juga digunakan untuk usia 3 – 5 tahun
·         Terdiri dari 600 item, benar- salah
·         Yang menjawab adalah orang dewasa yang mengetahui banyak tentang anak atau remaja tersebut, tertuma ibunya
3.  MCMI (Millon Clinical Multiaxial Inventory)
·      Terdiri dari 175 pertanyaan self-descriptive yang diringkas untuk dijawab benar-salah oleh testee
·         Dirancang untun pasien klinis berusia diatas 17 tahun
·         Meliputi 29 skala klinis, setiap skala didasarkan pada 16-47 item yang overlap.
4. 16 – PF (Sixteen Personality Factor Questionnaire)
·         Dibuat untuk usia 16 tahun ke atas.
·         Mngungkap 16 trait.
·         Memiliki kunci untuk verifikasi jawaban yang diebut Motivational Distortion.
       5. EPPS (Edward Personal Preference Schedule
          *Terdiri dari 225 pasang pertanyaan
              *Testee memilih salah satu dari pasangan item yang ada 
          *Menggunakan skor ipsaptif, dimana kekuatan need tidak dinyatakan secara absolut tetapi dihubungkan dengan need yang lain.

Jenis – Jenis Inventori Minat
1. SCII (Strong Campbell Interest Inventory)
2. JVIS (Jackson Vocation Interest Survey)
3. KPRV (Kuder Preference Record Vocational).
4. CAI (Career Assessment Inventory).
5. RMIB (Rothwell Miller Interest Blank)

Tes Inventori Nilai
·         Study of Value
·         Work Values Inventori

Aturan Pemakaian Tes Psikologi
·         Tingkat A: Dapat digunakan, diskor, diinterpretasikan yang bukan dari psikologi, namun bertanggung jawab dan berwenang, misal Kepsek, guru BK, Pejabat instansi. Contoh tes: Tes Prestasi
·         Tingkat B: Tes yang membutuhkan persyaratan dan pengetahuan psikologi, misal sarjana psikologi. Contoh Tes: Tes kecerdasan, tes bakat, tes minat
·         Tingkat C: mempersyaratkan pengetahuan psikologi dan pengalaman menggunakan tes tersebut. Contoh: tes kecerdasan untuk kepentingan klinis, tes Rorschach.

EPPS (Edward Personal Preference Schedule)
a. Didesain terutama untuk instrument dalam penelitian dan konseling, untuk mengukur secara tepat dan tepat sejumlah variable normal yang independen.
b. Disusun oleh Edward berdasarkan teori dari H.A.Murray tentang need.
c. H.A Murray = 20 need diambil 15 eed oleh Edward.
d. Lima (5) yang tidak digunakan: counter action, defendance, rejection, play, understanding.
e. Need yang diungkap dalam EPPS merupakan gejala kontinum dan tertuang dalam bentuk Forced Choice
f. Mengukur kebutuhan bukan kemampuan.
EPPS termasuk tes kepribadian yang bersifat objektif. Ciri-cirinya:
1.     Tidak ada batas waktu untuk mengerjakan.
2.    Ekspresi jawaban dibatasi oleh alternative yang tersedia.
3.    Respon merupakan gambaran dari kondisi internal subjek
4.    Norma memberikan gambaran mengenai kondisi subjek
5.    Korelasi antara jawaban dengan kondisi sebenarnya 0,871
Hal yang harus dihindari:
1.     Adanya social desirability yaitu: sesuatu yang diinginkan oleh lingkungan social
2.    Diantisipasi dengan cara menyajikan dua pernyataan yang mengungkap trait kepribadian yang berbeda pada tiap item.
Lima belas (15) Need dalam EPPS:
1. Achievement : Berpartisipasi
2. Deference : Menyesuaikan diri dengan aturan
3. Order : Keteraturan dalam menunaikan tugas, hak dan kewajiban
4. Exhibition : Menunjukkan diri
5. Autonomy : Mandiri
6. Affiliation : Berempati
7. Interception : Berempati
8. Succorance : Hubungan social yang diwarnai ketergantungan
9. Dominance : Memimpin
10. Abasement : Merendahkan diri, kompromi, toleransi, menyesuaikan diri
11. Nurturance : Memberi perhatian yang diwarnai rasa sayang
12. Cange : Perubahan
13. Endurance : Keuletan, ketekunan
14. Heterosexual : Perhatian kepada lawan jenis.
15. Aggression : Bertentangan dengan orang lain

TES EPPS
o EPPS adalah salah satu tes kepribadian yang bersifat tes verbal
o Bentuk tes: Forced Choice Technique
o Subjek memilih alternatif A atau B yang sesuai dengan pilihannya
o Penggunaan EPPS; educative guidance, vocational guidance, personal problem. Biasanya disertai wawancara
o Data digunakan untuk membicarakan kekuatan relatif variabel dalam diri klien
o Ada kemungkinan terjadi kewaspadaan subjek sehingga bisa “berbohong”
o Korelasi antara apa yang dicerminkan keluar dengan keadaan dalam individu sebesar 0,871
o Terdiri dari 225 aitem
o Inventori kepribadian yang biasa digunakan penuh dengan muatan social diserability
o Menggunakan teori need Murray dari 20 need, Edward hanya menggunakan 15 need.


Tes kepribadian yang lain, yang disebut tes proyektif


TES PROYEKTIF

Tes proyektif adalah alat ukur kepribadian yang dalam mengungkap kepribadian menggunakan media atau materi sebagai tempat untuk memproyeksikan dorongan, perasaan ataupun sentiment seseorang. dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, individu memberikan respon pada stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu, dimana hal ini berbeda dengan tes objektif yang memuat beberapa pertanyaan berstruktur. Sehingga diharapkan dengan menggunakan tes proyektif, individu secara tidak sadar akan mengungkap dan menggambarkan struktur dan dinamika kepribadiannya.
Teknik proyektif yang banyak dikenal dan digunakan secara luas oleh ahli psikologi lainnya yaitu tes Rorschach, Thematic Apperception Test (TAT), Children’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Picture Story Test, dan Sentence Completion Test. Berikut adalah penjelasan mengenai tes-tes tersebut:

1.  Thematic Apperception Test (TAT)
TAT adalah yang dikenal sebagai teknik interpretasi gambar karena menggunakan rangkaian standar provokatif berupa gambar yang ambigu dan subjek yang harus menceritakan sebuah cerita dari gambar yang tertera. Subjek diminta untuk mengatakan sebagai sebuah cerita yang dramatis.


2.  Children’s Apperception Test (CAT)
Bentuk lain dari TAT adalah CAT (Children’s Apperception Test), yang digunakan untuk anak anak. CAT menampilkan sepuluh gambar binatang dalam konteks sosial manusia seperti memainkan game atau tidur di tempat tidur. Pada saat ini, versi ini dikenal sebagai CAT atau CAT-A (gambar binatang).
3.  Michigan Picture Story Test (MPST)
Tes ini hampir sama dengan kedua tes diatas dan terdiri dari material yang menggambarkan anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bermanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul
4.  Make-A-Picture Story (MAPS)
Tes ini juga hampir sama dengan MPST dalam interpretasi dan tujuan yang dimiliki. Perbedaannya, individu boleh memilih karakter yang ada untuk membuat sebuah cerita berdasarkan situasi yang ada.
5.  Figure Drawing
Mungkin sebagian dari kita pernah melakukan tes ini. Dalam tes ini, kemampuan menggambar bukanlah faktor utama. Salah satu bentuk tesnya adalah Draw-A-Person (DAP), dimana individu diminta untuk menggambar seorang lelaki dan perempuan menggunakan pensil dan kertas.

6.  Incomplete Sentence Test
Dalam metode proyektif ini, terdiri dari sejumlah kalimat tidak lengkap yang disajikan untuk dilengkapi. Biasanya bukan merupakan tes standar dan tidak diperlakukan secara kuantitatif. Penting sebagai bahan pertimbangan dalam situasi klinis yang memiliki asumsi bahwa respon individu terhadap stimulus yang ambigu merupakan proyeksi dari hal-hal yang ada dalam ketidaksadaran. Respon yang diberikan subjek dapat memberikan gambaran area konflik, termasuk juga kelebihan dan kekurangan dari kepribadian subjek.
7.  Competency Screening Test
Diberikan kepada individu yang menjadi terdakwa untuk mempelajari interscorer kehandalan dan validitas prediktif tentang status mental atau inteligensi individu terkait dengan kasus individu yang sedang terjadi. Tes juga secara signifikan membedakan antara individu yang dikategorikan oleh praktisi sebagai tidak berkompetensi secara mental dan yang dikategorikan sebagai kompeten dalam sidng kasus yang dijalani.
8.  Rorschach Test
The Rorschach test juga dikenal sebagai tes inkblot Rorschach atau sekadar tes Inkblot adalah sebuah tes psikologi di mana subjek mempersepsi sebuah bentuk gambar tinta yang dicatat dan kemudian dianalisis dengan menggunakan interpretasi psikologis. Beberapa psikolog menggunakan tes ini untuk memeriksa kepribadian seseorang baik karakteristik maupun fungsi emosional. Telah digunakan untuk mendeteksi gangguan pikiran yang mendasari individu, terutama dalam kasus-kasus di mana pasien tidak mau untuk menggambarkan proses berpikir mereka secara terbuka. Tes ini mengambil namadari penciptanya yaitu psikolog dari Swiss, Hermann Rorschach.
Kelebihan tes proyektif

·         Dapat mengungkap hal – hal dibawah sadar untuk keperluan klinis
·         Dapat menurunkan ketegangan, Bersifat ekonomis
Kekurangan tes proyektif
·         Validitas dan reliabilitasnya rendah
·         Tester harus memiliki keterampilan yang khusus untuk dapat menggunakan tes ini dalam melakukan diagnosa.

Mungkin cukup sampai disini nih blogger, semoga bermanfaat J
YUK TERUS MENCARI TAHU !




Sumber :
EGC.Robert S. Feldman (2012). Pengantar Psikologi. Jakarta: Salemba HumanikaCalvin S.



http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/196605162000122-
HERLINA/PD6-TM3_PENDEKATAN_DALAM_TES_PROYEKSI.pdf